Google

27 Februari 2008

STROKE

Adalah defisit neurologis berupa : kelumpuhan lengan dan tungkai sesisi, defisit sensoris sesisi (tebal, tidak berasa, dsb), bicara pelo, kelumpuhan otot-otot wajah sesisi, dan sebagainya. Gejala-gejala tersebut di atas dapat timbul :

Berlangsung secara tiba-tiba dalam waktu singkat (beberapa menit, jam atau 1/2 hari)

Serentak dengan hilang kesadaran (pingsan)

Secara berangsur-angsur dengan penurunan kesadaran/tanpa gangguan kesadaran.

Gejala-gejala tersebut merupakan manifestasi dari infark (kerusakan sel/sel kekurangan oksigen) pada otak. Ciri-ciri mulai timbulnya dan gejala pengiringnya menandakan sifat, lokalisasi, dan jenis kelainan yang diderita pada otak.

Faktor resiko terjadinya stroke antara lain :

Umur, lebih tua lebih mungkin terserang stroke.

Hipertensi.

Diabetes mellitus, orang yang diobati insulin lebih banyak mempunyai resiko untuk mengidap stroke.

Penyakit jantung.

Merokok.

Ada dua jenis stroke, yaitu stroke ischemic, dan stroke hemorrhagic. Stroke ischemic dibedakan lagi menjadi stroke emboli dan trombosis.

Stroke ischemic, merupakan stroke yang terjadi akibat pembuntuan dari pembuluh darah otak. Pembuntuan tersebut bisa berupa trombus, gumpalan trombosit (karena fibrilasi atrium), gumpalan kuman (pada endokarditis bakterial), atau gumpalan darah.

Stroke hemorrhagic, merupakan stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak.

Pada pemeriksaan fisik bisa ditemui adanya defisit motoris (kelumpuhan) sesisi, defisit sensoris (berkurangnya sensasi raba, tekan, nyeri, dsb) pada tubuh sesisi. Reflek fisiologis yang meningkat pada sisi yang lumpuh, dan timbulnya reflek patologis pada sisi yang lumpuh.

Untuk mengetahui secara pasti penyebab stroke tersebut, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan CT Scan otak. Dengan pemeriksaan tersebut kita bisa mengetahui lokasi, jenis stroke, dan perkembangan pengobatan yang diberikan.

Penatalaksanaan penderita, selain dengan pengobatan terhadap stroke yang diderita (operasi atau pengobatan konservatif), juga menghindari faktor pencetus (misal rokok), juga dengan melakukan rehabilitasi medik terhadap kelumpuhan/gangguan sensoris/gangguan lainnya, supaya setidaknya dapat dicapai kondisi yang optimal, baik fisik, mental, dan sosial.

0 komentar: