27 Februari 2008

KERACUNAN MINYAK TANAH

Karakteristik Minyak Tanah :

Minyak tanah (kerosene) merupakan cairan bahan bakar yang jernih, tidak berwarna, tidak larut dalam air, berbau, dan mudah terbakar. Termasuk dalam golongan petrolium terdistilasi hidrokarbon. Memiliki berat jenis 0,79. Titik didih 163oC – 204oC, titik beku –54oC.

Efek Toksik Minyak Tanah

Efek pada paparan akut minyak tanah :

Kontak kulit : kering, dapat iritasi, menyebabkan rash

Absorbsi kulit : jarang

Kontak mata : iritasi, dapat menyebabkan kerusakan permanen

Inhalasi : iritasi, sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi

Ingesti : sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi

Efek pada paparan kronis minyak tanah :

Secara umum : kulit pecah-pecah, dermatitis, kerusakan hepar/kelenjar adrenal/ginjal, dan abnormalitas eritrosit

Karsinogenik : terlihat pada studi eksperimental pada tikus. Pada manusia tidak ada data yang tercatat

Sistem reproduksi : tidak ada data yang tercatat

Insiden Intoksikasi Minyak Tanah :

Terutama pada anak-anak < 6 tahun. Khususnya pada negara-negara berkembang.

Daerah perkotaan > daerah pedesaan

Pria > wanita

Umumnya terjadi karena kelalaian orang tua

Patofisiologi :

Efek toksis terpenting dari minyak tanah adalah pneumonitis aspirasi. Studi pada binatang menunjukkan toksisitas pada paru > 140 x dibanding pada saluran pencernaan. Aspirasi umumnya terjadi akibat penderita batuk atau muntah. Akibat viskositas yang rendah dan tekanan permukaan, aspirat dapat segera menyebar secara luas pada paru. Penyebaran melalui penetrasi pada membran mukosa, merusak epithel jalan napas, septa alveoli, dan menurunkan jumlah surfactan sehingga memicu terjadinya perdarahan, edema paru, ataupun kolaps pada paru. Jumlah < 1 ml dari aspirasi pada paru dapat menyebabkan kerusakan yang bermakna. Kematian dapat terjadi karena aspirasi sebanyak + 2,5 ml pada paru (pada lambung + 350 ml). Selain itu, jumlah 1 ml/kg BB minyak tanah dapat menyebabkan depresi CNS ringan – sedang, karditis, kerusakan hepar, kelenjar adrenal, ginjal, dan abnormalitas eritrosit. Namun efek sistemik tersebut jarang karena tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan. Minyak tanah juga diekskresikan lewat urine.

Tanda / Gejala Klinis :

Gejala dan tanda klinis utamanya berhubungan dengan saluran napas, pencernaan, dan CNS. Awalnya penderita akan segera batuk, tersedak, dan mungkin muntah, meskipun jumlah yang tertelan hanya sedikit. Sianosis, distress pernapasan, panas badan, dan batuk persisten dapat terjadi kemudian. Pada anak yang lebih besar mungkin mengeluh rasa panas pada lambung dan muntah secara spontan. Gejala CNS termasuk lethargi, koma, dan konvulsi.

Pada kasus yang gawat, pembesaran jantung, atrial fibrilasi, dan fatal ventrikular fibrilasi dapat terjadi. Kerusakan ginjal dan sumsum tulang juga pernah dilaporkan. Gejala lain seperti bronchopneumonia, efusi pleura, pneumatocele, pneumomediastinum, pneumothorax, dan subcutaneus emphysema.

Tanda lain seperti rash pada kulit dan dermatitis bila terjadi paparan pada kulit. Sedangkan pada mata akan terjadi tanda-tanda iritasi pada mata hingga kerusakan permanen mata.

Pemeriksaan Penunjang :

Laboratorium : darah rutin, urine rutin, RFT, LFT, dan BGA

Radiologis : foto thorax. Terbaik 1,5 – 2 jam setelah paparan. Penderita dengan pneumonia umumnya akan tampak di foto pada 6 – 18 jam, namun pernah juga dilaporkan baru tampak setelah 24 jam.

Prognostic Score :

Dilakukan sebagai panduan dalam terapi dan menentukan prognosis penderita. Parameter yang diambil adalah panas badan, malnutrisi berat, distress respirasi, dan gejala neurologis.
Parameter
Temuan Klinis
Poin

Panas
(-)
0

(+)
1

Malnutrisi berat
(-)
0

(+)
1

Distress respirasi
(-)
0

(+) tanpa sianosis
2

(+) dengan sianosis
4

Gejala neurologis
(-)
0

(+) tanpa konvulsi
2

(+) dengan konvulsi
4


Prognostic Score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari distress pernapasan) + (poin dari gejala neurologis)

Interpretasi :

Skor minimum = 0

Skor maksimum = 10

Skor > 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi

Skor > 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian; skor < 7 mengindikasikan anak akan selamat.

Penatalaksanaan :

Monitor sistem respirasi

Inhalasi oksigen

Nebulisasi dengan Salbutamol : bila mulai timbul gangguan napas

Antibiotika : bila telah timbul infeksi, tidak dianjurkan sebagai profilaksis

Hidrokortison : dulu direkomendasikan, sekarang jarang dilakukan

Kumbah lambung dan charcoal aktif (arang): beberapa literatur menolak penatalaksanaan dengan kumbah lambung, dengan alasan dapat menyebabkan aspirasi dan kerusakan paru. Sedangkan literatur lain memperbolehkannya, utamanya bila jumlah yang ditelan cukup banyak, karena dikhawatirkan terjadi penguapan dari lambung ke paru.

Antasida : untuk mencegah iritasi mukosa lambung

Pemberian susu atau bahan dilusi lain

Anus dan perineum harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah iritasi (skin burn) sekunder

Bila terjadi gagal napas, dapat dilakukan ventilasi mekanik (Positive End – Expiratory Pressure – PEEP)

Tidak ada komentar: