12 Maret 2008

Tutorial ini hanya untuk AVG anti spyware fersi 7.5.1.43

INSTALL :

Install exe
setelah terinstall... update avg tersebut sampai penuh... kemudian matikan system auto update-nya

jangan memberikan acces untuk update/terkoneksi internet - block menggunakan Firewall (SYGATE Personal Firewall Pro is the BEST...)

matikan auto update and jangan pernah menggunakan "update manually" pada panel

dapatkan updatenya disini...


FULL UPDATE:
http://downloads.ewido.net/avgas-sig...ll-current.exe

UPDATE lanjutan : (2-3 hari)
http://downloads.ewido.net/avgas-signatures-current.exe

http://www.ewido.net/en/download/updates/

Install update file dan masukkan REG serial untuk menggunakan secara penuh....

selamat menikmati....

recomended serial:
75SP-TH1VD1-P09-C01-S30MUE-NNK-I1X8

27 Februari 2008

HIPERTENSI

Hipertensi/tekanan darah tinggi adalah penyakit yang umum timbul di dalam masyarakat. Merupakan peningkatan yang persisten dari tekanan pembuluh darah arteri, yaitu tekanan diastolik diatas 95 mmHg. Tekanan darah normal biasanya tekanan sistolik tidak melebihi 140 mmHg dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Namun patokan tekanan darah normal tersebut individual sifatnya.

Diagnosis hipertensi dibuat atas dasar hasil beberapa kali pemeriksaan, kecuali bila tekanan darahnya sangat tinggi dapat ditetapkan dengan satu kali pemeriksaan. Keluhan yang mungkin timbul antara lain nyeri pada daerah kepala bagian belakang, mimisan, penglihatan kabur, kelemahan otot-otot, mual, muntah, dan sebagainya.

Terdapat beberapa klasifikasi dari hipertensi, antara lain :

Penyebabnya : hipertensi primer (tidak diketahui sebabnya), dan hipertensi sekunder (akibat penyakit, obat-obatan, maupun kehamilan).

Klasifikasi menurut WHO 1999, berdasarkan dari tekanan diastolik, yaitu : derajat I (95-109 mmHg); derajat II (110-119 mmHg); derajat III (> 120 mmHg).

Pengelolaan terhadap penderita hipertensi adalah :

Pengobatan tanpa obat, antara lain : diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh, peredaan stress emosional, berhenti merokok/alkohol, dan latihan fisik ringan dan teratur.

Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.

Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

KEJANG DEMAM

Kejang demam, dalam istilah medis dikenal sebagai febrile konvulsi, adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal > 38 oC), yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (di luar susunan saraf pusat). Penyakit ini paling sering terjadi pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik. Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang.

Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya. Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf.

Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari otak.

Penatalaksanaan pada penderita ini adalah

Menghentikan kejang secepat mungkin, dengan pemberian diazepam sebagai drug of choice, bisa parenteral maupun suppositoria. (untuk ini diharapkan membawa penderita ke dokter/pelayanan kesehatan dengan segera).

Pengobatan penunjang, semua pakaian ketat dibuka, posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah muntahan isi lambung ke dalam paru, dilakukan juga tindakan profilaksis terhadap kemungkinan kejang berikutnya.

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, perjalanan penyakitnya baik dan tidak menimbulkan kematian.

PPOK/COPD

Penyakit Paru Obstruksi Kronik [PPOK] adalah penyakit paru dengan terjadinya sumbatan aliran udara pada paru yang berlangsung lama. Dalam istilah Inggrisnya dikenal sebagai Chronic Obstructive Pulmonary Disease [COPD].

Normalnya, saat kita bernapas, udara akan masuk melalui hidung atau mulut, melalui tenggorokan, trakea, bronchus [cabang trachea, mengandung lendir dan cilia yang berfungsi untuk proses pembersihan udara], bronchiolus [cabang bronchus], dan kemudian ke alveoli [kantung-kantung udara di paru]. Setelah itu terjadi pertukaran antara oksigen dan carbon dioksida. Oksigen akan diserap ke dalam pembuluh darah, sedangkan carbon dioksida akan dikeluarkan melalui saluran napas.

PPOK mempunyai 3 gejala umum utama, yaitu : sesak napas, batuk menahun, dan batuk berdahak. Namun pada kasus yang ringan tidak menimbulkan gejala apapun. Beberapa ciri dari PPOK yaitu : biasanya dialami oleh perokok berat, gejala muncul pada usia 40-an, gejala semakin lama semakin bertambah buruk, gejala memburuk pada musim hujan/dingin, dan tidak ada hubungannya dengan alergi.

Terdapat 2 jenis PPOK, yaitu Bronchitis Chronic dan Emphysema. Pada bronchitis chronic terjadi peradangan pada dinding saluran napas sehingga menghasilkan terlalu banyak lendir. Akibatnya saluran napas menyempit sehingga pertukaran udara di paru terganggu. Pada bronchitis chronic juga terjadi kerusakan pada cilia yang berfungsi untuk membersihkan lendir berlebihan dalam saluran napas. Pada emphysema, terjadi pembesaran dan kerusakan luas alveoli, sehingga terjadi gangguan pertukaran udara dalam paru.

Penegakan diagnosis dari PPOK mencakup pemeriksaan anamnesis [pola hidup-riwayat merokok, riwayat penyakit keluarga, keluhan yang dialami, dsb], pemeriksaan fisik [pada saluran napas dan jantung], dan pemeriksaan penunjang [pemeriksaan laboratorium, rontgen dada, dan test fungsi paru].

Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ini :

[1] Berhenti merokok, dapat memperlambat proses perburukan penyakit, mencegah komplikasi, dan memperpanjang harapan hidup.

[2] Latihan pernapasan [pursed-lip breathing dan diaphragmatic breathing]. Pursed-lip breathing : duduk tegak dengan otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. Hembuskan napas secara perlahan melalui mulut Anda [dengan gerakan seperti meniup lilin] selama 4 hitungan atau lebih. Diaphragmatic breathing : duduk atau berbaring dalam posisi nyaman dengan kepala bersandar dan lutut ditekuk. Otot leher dan bahu dalam keadaan rileks. Tempatkan salah satu tangan di uluhati dan tangan lainnya di dada. Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 2 hitungan. Lalukan dengan cara yang benar sampai Anda merasakan otot uluhati dalam keadaan rileks dan mengembang dan posisi dada tidak berubah. Kencangkan otot uluhati dan hembuskan napas melalui mulut 4 hitungan. Anda akan merasa otot uluhati mengempis.

[3] Perkusi dada, untuk membantu mengeluarakan dahak/lendir yang berlebihan dari paru. Dengan cara : rapatkan kelima jari tangan Anda membentuk mangkuk lalu tepuk-tepuk dada dan punggung [dengan atau tanpa bantuan orang lain] secara lembut.

[4] Olahraga, pilih yang mampu Anda lakukan, misal berjalan, bersepeda, berenang, dsb.

[5] Mempertahankan berat badan ideal.

[6] Minum banyak air untuk membantu mengencerkan dahak.

[7] Konsumsi cukup protein [daging dan produk susu], buah, dan sayuran.

Bila Anda telah mengalami penyakit ini, segeralah memeriksaan diri ke dokter secara teratur. Dengan menjalani pengobatan secara teratur dan melakukan perubahan perilaku, Anda masih mempunyai kesempatan untuk hidup lebih sehat dan bugar.

PSORIASIS

Psoriasis adalah penyakit kulit kronis (yang berlangsung lama) yang dipercaya berhubungan dengan sistem imunitas, meskipun penyebab pastinya masih tidak diketahui. Penyakit ini tidak menular. Gambaran yang timbul awalnya berupa bercak kemerahan pada kulit, kemudian berkembang menjadi plaque, yaitu peninggian kulit dengan ukuran bervariasi, yang berwarna kemerahan yang ditutupi oleh bentukan berwarna keperakan seperti tetesan lilin.

Normalnya sel kulit akan matur pada 28-30 hari dan kemudian terlepas dari permukaan kulit. Pada penderita psoriasis, sel kulit akan matur dan menuju permukaan kulit pada 3-4 hari, sehingga akan menonjol dan menimbulkan bentukan peninggian kumpulan plak berwarna kemerahan. Warna kemerahan tersebut berasal dari peningkatan suplai darah untuk nutrisi bagi sel kulit yang bersangkutan. Bentukan berwarna putih seperti tetesan lilin (atau sisik putih) merupakan campuran sel kulit yang mati. Bila dilakukan kerokan pada permukaan psoriasis, maka akan timbul gejala koebner phenomenon. Terdapat banyak tipe dari psoriasis, misalnya plaque, guttate, pustular, inverse, dan erythrodermic psoriasis. Umumnya psoriasis akan timbul pada kulit kepala, siku bagian luar, lutut, maupun daerah penekanan lainnya. Tetapi psoriasis dapat pula berkembang di daerah lain, termasuk pada kuku, telapak tangan, genitalia, wajah, dll.

Setiap orang dapat menderita psoriasis, meskipun hereditas memegang peranan penting. Timbul lebih sering pada wanita dibanding pada pria, umumnya pada umur 15-35 tahun, tetapi bisa pula pada semua umur. 10-15 % menderita psoriasis sebelum usia 10 tahun.
Faktor pemicu/ predisposisi terjadinya psoriasis antara lain: luka pada kulit (misalnya incisi pada pembedahan), stress emosional, dan beberapa jenis infeksi (seperti infeksi streptococcus pada tenggorokan). Hal-hal tersebut tidak menyebabkan psoriasis secara langsung, melainkan mungkin dapat memperberat psoriasis yang telah diderita.

Tujuan pengobatan psoriasis agar kulit menjadi bersih kembali. Beberapa jenis pengobatan dapat meminimalisasi bentukan plaque psoriasis, namun hal tersebut bukanlah pengobatan sesungguhnya. Pengobatan yang lebih baik adalah dengan meneliti bagaimana penyakit ini timbul serta menghindari faktor predisposisinya. Pengobatan umumnya dibagi menjadi dua, yaitu pengobatan topikal dan pengobatan sistemik. Pengobatan topikal ditujukan untuk psoriasis derajat ringat hingga sedang. Misalnya pemberian coal tar, moisturizer dan asam salisilat. Obat topikal yang lebih kuat adalah kortikosteroid, coal tar yang lebih kuat, analog vitamin D3 dan topikal retinoid. Pengobatan sistemik ditujukan untuk psoriasis yang sedang hingga berat. Misalnya dengan penyinaran dengan ultraviolet B, PUVA, injeksi/oral methotrexate, oral retinoid, dan cyclosporin.

Beberapa tips untuk penderita psoriasis :

Jaga kulit agar tetap berminyak. Minyak, cream, dan petroleum jelly adalah moisturizer yang baik. Gunakan pelembab bila udara terasa panas.

Penyinaran dengan sinar matahari akan menghilangkan psoriasis pada beberapa orang, namun kulit terlebih dulu diolesi dengan minyak dan dilakukan lubrikasi.

Mandi dengan air panas akan mengurangi sisik yang timbul. Penggunaan moisturizer segera setelah mandi akan berguna.
Meminimalisasi kontak dengan sabun dan bahan kimia. Gunakan sabun yang sangat lembut, sabun moisturizing, atau sabun yang bebas pembersih.

Lindungi kulit dari cidera, sebab cidera dapat memperparah plaque yang timbul.

TETANUS

Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh gejala-gejala neurologik yaitu adanya spasme dan kenaikan tonus otot yang disebabkan oleh tetano spasmin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani.

Penyebab penyakit ini adalah Clostridium tetani, merupakan kuman anaerob, berspora batang gram positif. Kuman tersebut mengeluarkan eksotoksin yang bersifat tetano spasmin yang menyebar ke aliran darah/limfe sepanjang serabut saraf motoris, medulla spinalis dan saraf simpatis. Eksotoksin tersebut menghambat asetilkolin ujung saraf sehingga menimbulkan kejang.

Gambaran penyakit ini berupa : trismus (kaku pada rahang~sulit membuka rahang bawah), rhesus sardonicus (muka seperti monyet meringis), kaku kuduk (leher kaku, tidak bisa untuk mengangguk), opistotonus (badan kaku seperti busur), kaku perut, kejang, dan kemungkinan adanya luka sebagai tempat masuknya kuman. Diagnosis cukup ditegakkan dari gambaran klinis tersebut di atas.

Ada beberapa jenis penyakit yang menyerupai gejala tetanus tersebut, misalnya keracunan fenotiazin, epilepsi, dll. Gejala trismus juga tampak pada abcess gigi, tonsilitis, mumps, dan lain-lain. Gejala opistotonus bisa timbul pada rabies, peritonitis, dan ulkus peptikum perforata.

Komplikasi yang dapat timbul berupa :

Gangguan saluran nafas : spasme otot pharing, laring, dan atelektasisi akibat pneumonia aspirasi

Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, takikardi, aritmia, miokarditis

Infeksi sekunder : pneumonia, infeksi saluran kemih

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, dehidrasi/renal insufisiensi.

Pengobatannya dengan merawat pasien diruang yang tenang, kemudian diberikan Anti Tetanus Serum (ATS) sesuai berat badannya secara intravena dan sisanya intramuscular. Kejang diatasi dengan pemberian anti kejang (misal diazepam) secara intravena. Juga diberikan antibiotika. Perawatan pasien ini mungkin melibatkan berbagai bidang kedokteran, misalnya penyakit dalam, bedah, gigi, dan THT.

Penyakit ini bila sembuh tidak meninggalkan cacat, namun pada tetanus berat angka kematian 80-90%.

STROKE

Adalah defisit neurologis berupa : kelumpuhan lengan dan tungkai sesisi, defisit sensoris sesisi (tebal, tidak berasa, dsb), bicara pelo, kelumpuhan otot-otot wajah sesisi, dan sebagainya. Gejala-gejala tersebut di atas dapat timbul :

Berlangsung secara tiba-tiba dalam waktu singkat (beberapa menit, jam atau 1/2 hari)

Serentak dengan hilang kesadaran (pingsan)

Secara berangsur-angsur dengan penurunan kesadaran/tanpa gangguan kesadaran.

Gejala-gejala tersebut merupakan manifestasi dari infark (kerusakan sel/sel kekurangan oksigen) pada otak. Ciri-ciri mulai timbulnya dan gejala pengiringnya menandakan sifat, lokalisasi, dan jenis kelainan yang diderita pada otak.

Faktor resiko terjadinya stroke antara lain :

Umur, lebih tua lebih mungkin terserang stroke.

Hipertensi.

Diabetes mellitus, orang yang diobati insulin lebih banyak mempunyai resiko untuk mengidap stroke.

Penyakit jantung.

Merokok.

Ada dua jenis stroke, yaitu stroke ischemic, dan stroke hemorrhagic. Stroke ischemic dibedakan lagi menjadi stroke emboli dan trombosis.

Stroke ischemic, merupakan stroke yang terjadi akibat pembuntuan dari pembuluh darah otak. Pembuntuan tersebut bisa berupa trombus, gumpalan trombosit (karena fibrilasi atrium), gumpalan kuman (pada endokarditis bakterial), atau gumpalan darah.

Stroke hemorrhagic, merupakan stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak.

Pada pemeriksaan fisik bisa ditemui adanya defisit motoris (kelumpuhan) sesisi, defisit sensoris (berkurangnya sensasi raba, tekan, nyeri, dsb) pada tubuh sesisi. Reflek fisiologis yang meningkat pada sisi yang lumpuh, dan timbulnya reflek patologis pada sisi yang lumpuh.

Untuk mengetahui secara pasti penyebab stroke tersebut, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan CT Scan otak. Dengan pemeriksaan tersebut kita bisa mengetahui lokasi, jenis stroke, dan perkembangan pengobatan yang diberikan.

Penatalaksanaan penderita, selain dengan pengobatan terhadap stroke yang diderita (operasi atau pengobatan konservatif), juga menghindari faktor pencetus (misal rokok), juga dengan melakukan rehabilitasi medik terhadap kelumpuhan/gangguan sensoris/gangguan lainnya, supaya setidaknya dapat dicapai kondisi yang optimal, baik fisik, mental, dan sosial.

KERACUNAN MINYAK TANAH

Karakteristik Minyak Tanah :

Minyak tanah (kerosene) merupakan cairan bahan bakar yang jernih, tidak berwarna, tidak larut dalam air, berbau, dan mudah terbakar. Termasuk dalam golongan petrolium terdistilasi hidrokarbon. Memiliki berat jenis 0,79. Titik didih 163oC – 204oC, titik beku –54oC.

Efek Toksik Minyak Tanah

Efek pada paparan akut minyak tanah :

Kontak kulit : kering, dapat iritasi, menyebabkan rash

Absorbsi kulit : jarang

Kontak mata : iritasi, dapat menyebabkan kerusakan permanen

Inhalasi : iritasi, sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi

Ingesti : sakit kepala, pusing, mengantuk, intoksikasi

Efek pada paparan kronis minyak tanah :

Secara umum : kulit pecah-pecah, dermatitis, kerusakan hepar/kelenjar adrenal/ginjal, dan abnormalitas eritrosit

Karsinogenik : terlihat pada studi eksperimental pada tikus. Pada manusia tidak ada data yang tercatat

Sistem reproduksi : tidak ada data yang tercatat

Insiden Intoksikasi Minyak Tanah :

Terutama pada anak-anak < 6 tahun. Khususnya pada negara-negara berkembang.

Daerah perkotaan > daerah pedesaan

Pria > wanita

Umumnya terjadi karena kelalaian orang tua

Patofisiologi :

Efek toksis terpenting dari minyak tanah adalah pneumonitis aspirasi. Studi pada binatang menunjukkan toksisitas pada paru > 140 x dibanding pada saluran pencernaan. Aspirasi umumnya terjadi akibat penderita batuk atau muntah. Akibat viskositas yang rendah dan tekanan permukaan, aspirat dapat segera menyebar secara luas pada paru. Penyebaran melalui penetrasi pada membran mukosa, merusak epithel jalan napas, septa alveoli, dan menurunkan jumlah surfactan sehingga memicu terjadinya perdarahan, edema paru, ataupun kolaps pada paru. Jumlah < 1 ml dari aspirasi pada paru dapat menyebabkan kerusakan yang bermakna. Kematian dapat terjadi karena aspirasi sebanyak + 2,5 ml pada paru (pada lambung + 350 ml). Selain itu, jumlah 1 ml/kg BB minyak tanah dapat menyebabkan depresi CNS ringan – sedang, karditis, kerusakan hepar, kelenjar adrenal, ginjal, dan abnormalitas eritrosit. Namun efek sistemik tersebut jarang karena tidak diabsorbsi dalam jumlah banyak pada saluran pencernaan. Minyak tanah juga diekskresikan lewat urine.

Tanda / Gejala Klinis :

Gejala dan tanda klinis utamanya berhubungan dengan saluran napas, pencernaan, dan CNS. Awalnya penderita akan segera batuk, tersedak, dan mungkin muntah, meskipun jumlah yang tertelan hanya sedikit. Sianosis, distress pernapasan, panas badan, dan batuk persisten dapat terjadi kemudian. Pada anak yang lebih besar mungkin mengeluh rasa panas pada lambung dan muntah secara spontan. Gejala CNS termasuk lethargi, koma, dan konvulsi.

Pada kasus yang gawat, pembesaran jantung, atrial fibrilasi, dan fatal ventrikular fibrilasi dapat terjadi. Kerusakan ginjal dan sumsum tulang juga pernah dilaporkan. Gejala lain seperti bronchopneumonia, efusi pleura, pneumatocele, pneumomediastinum, pneumothorax, dan subcutaneus emphysema.

Tanda lain seperti rash pada kulit dan dermatitis bila terjadi paparan pada kulit. Sedangkan pada mata akan terjadi tanda-tanda iritasi pada mata hingga kerusakan permanen mata.

Pemeriksaan Penunjang :

Laboratorium : darah rutin, urine rutin, RFT, LFT, dan BGA

Radiologis : foto thorax. Terbaik 1,5 – 2 jam setelah paparan. Penderita dengan pneumonia umumnya akan tampak di foto pada 6 – 18 jam, namun pernah juga dilaporkan baru tampak setelah 24 jam.

Prognostic Score :

Dilakukan sebagai panduan dalam terapi dan menentukan prognosis penderita. Parameter yang diambil adalah panas badan, malnutrisi berat, distress respirasi, dan gejala neurologis.
Parameter
Temuan Klinis
Poin

Panas
(-)
0

(+)
1

Malnutrisi berat
(-)
0

(+)
1

Distress respirasi
(-)
0

(+) tanpa sianosis
2

(+) dengan sianosis
4

Gejala neurologis
(-)
0

(+) tanpa konvulsi
2

(+) dengan konvulsi
4


Prognostic Score = (poin dari panas) + (poin dari malnutrisi) + (poin dari distress pernapasan) + (poin dari gejala neurologis)

Interpretasi :

Skor minimum = 0

Skor maksimum = 10

Skor > 4 berhubungan dengan lamanya MRS dan komplikasi

Skor > 8 berhubungan dengan peningkatan resiko kematian; skor < 7 mengindikasikan anak akan selamat.

Penatalaksanaan :

Monitor sistem respirasi

Inhalasi oksigen

Nebulisasi dengan Salbutamol : bila mulai timbul gangguan napas

Antibiotika : bila telah timbul infeksi, tidak dianjurkan sebagai profilaksis

Hidrokortison : dulu direkomendasikan, sekarang jarang dilakukan

Kumbah lambung dan charcoal aktif (arang): beberapa literatur menolak penatalaksanaan dengan kumbah lambung, dengan alasan dapat menyebabkan aspirasi dan kerusakan paru. Sedangkan literatur lain memperbolehkannya, utamanya bila jumlah yang ditelan cukup banyak, karena dikhawatirkan terjadi penguapan dari lambung ke paru.

Antasida : untuk mencegah iritasi mukosa lambung

Pemberian susu atau bahan dilusi lain

Anus dan perineum harus dibersihkan secepatnya untuk mencegah iritasi (skin burn) sekunder

Bila terjadi gagal napas, dapat dilakukan ventilasi mekanik (Positive End – Expiratory Pressure – PEEP)

HERNIA

Hernia merupakan protusi/penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Terdapat beberapa poin penting dalam hernia, yaitu : defek/bagian yang lemah dari dinding rongga, kantung hernia, isi hernia, dan cincin hernia (daerah penyempitan kantung hernia akibat defek tersebut).

Berdasarkan terjadinya, dibagi atas hernia kongenital/bawaan dan hernia yang didapat. Hernia diberi nama menurut letaknya, misalnya diafragma, inguinal, umbilical, femoral, dan sebagainya. Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernia keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga disebut hernia irreponibel. Hal ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantung pada perineum kantong hernia. Bila tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus akibat perlekatan tersebut disebut hernia akreta.

Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, disebut hernia inkarserata atau hernia strangulata. Disebut hernia inkarserata bila isi kantung terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irreponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut hernia strangulata. Sebenarnya gangguan vaskularisasi sudah terjadi saat jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.

HERNIA INGUINALIS : dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Pria > wanita. Faktor yang berperan adalah terbukanya processus vaginalis, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut (pada trigonom Hesselbach). Tekanan rongga perut yang tinggi secara kronis dapat berupa batuk kronis, hipertrofi prostat, konstipasi, ascites, kehamilan multipara, obesitas, dll. Hernia inguinalis bisa berupa hernia inguinalis medialis maupun hernia inguinalis lateralis. Hernia inguinalis yang mencapai scrotum disebut hernia scrotalis.

Keluhan dan tanda klinik yang timbul bergantung pada keadaan isi hernia, ada tidaknya perlekatan, maupun komplikasi yang telah terjadi. Pada hernia reponibel, keluhan yang timbul hanya berupa benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu berdiri/batuk/bersin/mengedan, dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri pada hernia ini jarang dijumpai, kalaupun ada dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilical berupa nyeri visceral akibat regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantung hernia. Bila telah timbul inkarserasi atau strangulasi, dapat timbul nyeri yang hebat dan keluhan mual - muntah.

Pengelolaannya bisa dengan pengobatan konservatif, maupun tindakan definitif berupa operasi. Tindakan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Jika reposisi tidak berhasil, dalam waktu 6 jam harus dilakukan operasi segera. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioraphy.

Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis.

Terdapat banyak jenis hernia yang lain, antara lain :

Hernia femoralis : berupa benjolan di lipat paha melalui anulus femoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan vena femoralis sepanjang sekitar 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha.

Hernia umbilicalis : merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut yang masuk melalui cincin umbilikus (pusar) akibat peninggian tekanan intra abdomen. Merupakan kelainan kongenital. Hernia ini biasanya akan regresi spontan dalam 6 bulan sampai 1 tahun, bila cincin hernia < 2 cm. Bila lebih dari 2 cm, perlu tindakan operasi.

Hernia paraumbilicalis : hernia melalui suatu celah di garis tengah tepi atas umbilicus.

Hernia epigastrika : hernia yang keluar melalui defek di linea alba antara umbilicus dan processus xyphoideus.

Dengan penanganan yang dini, komplikasi yang mungkin timbul dapat dihindari.

AIDS

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu suatu sekumpulan gejala penyakit yang mengganas akibat daya tahan rusak atau lumpuhnya tubuh manusia, yang disebabkan oleh infeksi virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia.

Secara normal, sistem kekebalan tubuh melindungi tubuh terhadap penyakit, bila dirusak oleh HIV maka serangan penyakit yang tidak berbahaya dapat menjadi bahaya dan bahkan mematikan. Penderita AIDS yang meninggal, bukan semata-mata disebabkan oleh virus AIDS, tetapi oleh penyakit lain yang sebenarnya bisa dicegah seandainya daya tahan tubuh penderita tidak dirusak oleh virus AIDS.

AIDS merupakan penyakit menular yang dengan cepat menyebar ke seluruh dunia (pandemi) dan terutama menular lewat hubungan seksual (homoseksual, biseksual, heteroseksual. Penyakit ini mematikan, karena belum ditemukan obat penyembuhnya ataupun vaksin pencegahannya. Orang yang terinfeksi virus AIDS tidak segera menderita AIDS, membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan ia akan menjadi pembawa atau penular virus AIDS selama hidupnya.

Gejala-gejala yang sering timbul pada penderita AIDS :

Rasa lelah berkepanjangan

Sering demam disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas

Berat badan menurun secara menyolok

Sesak nafas dan batuk berkepanjangan

Bercak merah kebiruan pada kulit (kanker kaposi)

Diare lebih dari 1 bulan tanpa sebab yang jelas

Pembesaran kelenjar getah bening (di leher, ketiak, lipatan paha) tanpa sebab yang jelas

Bercak putih atau luka di mulut

dan sebagainya

Gejala di atas belum bisa memastikan seseorang menderita AIDS karena gejala tersebut sering dijumpai pada penyakit lain. Untuk memastikan bahwa seseorang mengidap HIV perlu dilakukan pemeriksaan darah yang menetapkan ada tidaknya zat antivirus HIV yang dibentuk tubuh bila terserang virus tersebut.

AIDS tidak menular karena : berjabatan tangan; makanan dan minuman; berciuman pipi; gigitan serangga atau nyamuk; hidup serumah dengan penderita AIDS (asal tidak melakukan hubungan seksual); bersama-sama berenang di kolam renang; penderita AIDS bersin atau batuk di depan kita; menggunakan WC/kamar mandi yang sama; bersentuhan biasa dengan penderita.

HIV atau virus AIDS terdapat pada semua cairan tubuh penderita, tetapi yang terbukti berperan dalam penularan AIDS yang sangat efektif adalah air mani, cairan vagina, dan darah. Penularan AIDS terutama terjadi melalui : tranfusi darah yang tercemar HIV; jarum suntikan atau alat tusuk lainnya (akupuntur, tato, alat cukur) yang bekas dipakai oleh orang yang mengidap HIV; hubungan seksual (homo maupun heteroseksual) dengan seseorang yang mengidap HIV; ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut kepada janin atau bayinya (perinatal).

Kelompok resiko tinggi tertular AIDS adalah :

Kelompok yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan maupun yang melakukan hubungan seksual secara tidak normal, seperti : wanita/pria pekerja seks komersil dan pelanggannya; mucikari; homoseksual (laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan sesama laki-laki); biseksual (laki-laki atau perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenisnya maupun dengan lawan jenisnya); wanita muda pemijat tertentu di panti pijat; wanita/pria yang sering berganti-ganti pasangan seksual.

Kelompok penyalah guna narkotik suntik yang menggunakan alat suntik tidak steril secara bersama/bergantian.

Cara mencegahnya yang paling baik adalah menghindari hubungan seksual di luar ikatan pernikahan atau zinah. Bila sulit dihindari, lakukanlah dengan pemakaian kondom yang benar.

OSTEOPOROSIS

Adalah suatu keadaan dimana kepadatan tulang mulai berkurang dan disertai kerusakan mikroarsitektur tulang, sehingga tulang akan menjadi rapuh dan mudah patah.

Osteoporosis dapat terjadi baik pada pria maupun wanita. Namun resiko terjadinya osteoporosis pada wanita lebih tinggi karena mengalami menopause (> 45 tahun). Yaitu masa dimana terjadi penurunan kadar hormon estrogen dalam tubuh (= masa berhenti haid). Sedangkan pada pria osteoporosis terjadi di usia lanjut ( > 70 th).

Osteoporosis disebabkan gangguan metabolisme tulang, yaitu kerja sel penghancur tulang melebihi kerja sel pembentuk tulang. Akibatnya lama kelamaan tulang menjadi keropos. Gangguan ini dapat terjadi secara fisiologis akibat proses penuaan yang disertai dengan menurunnya hormon, kurang asupan kalsium dan vitamin D, disertai dengan faktor-faktor pendukung lainnya.

Gejala yang timbul bervariasi, namun umumnya terjadi tanpa gejala, sehingga seringkali seseorang tidak menyadari dirinya menderita osteoporosis sampai terjadinya patah tulang. Untuk mengetahui secara dini terjadinya osteoporosis, dapat digunakan beberapa pemeriksaan seperti :

Pengukuran kepadatan massa tulang (Bone Mineral Density/BMD) dengan Densitometer.

Pemeriksaan Laboratorium dengan mengukur petanda biokimiawi untuk mengetahui keseimbangan pembentukan dan penghancuran tulang.

Akibat yang ditimbulkan dari osteoporosis yaitu mudah terjadi patah tulang, meskipun hanya karena trauma ringan ataupun saat mengangkat beban berlebih. Tubuh makin lama makin membungkuk.

Untuk itu perlu diketahui cara mencegah terjadinya osteoporosis. Antara lain :

Kalsium yang cukup; kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang, karena itu kebutuhan akan kalsium harus dipenuhi. Sumber kalsium yang terbaik adalah makanan, tetapi bila tidak mencukupi maka diperlukan tambahan kalsium dari suplemen kalsium. Makanan yang banyak mengandung kalsium : susu, keju, yogurt. Kebutuhan kalsium usia > 50 th : 800-1200 mg.

Vitamin D; diperlukan untuk membantu penyerapan kalsium pada usus, sehingga asupan kalsium dapat digunakan tubuh dengan maksimal. Kebutuhan vitamin D usia > 50 th : 5 mcg.

Bifosfonat; obat golongan bifosfonat bekerja dengan cara menghambat kerja sel penghancur tulang secara berlebihan. Berberapa jenis obat golongan bifosfonat seperti alendronate, dapat digunakan untuk mencegah terjadinya osteoporosis.

Olahraga yang teratur; dianjurkan untuk melakukan weight bearing / olahraga yang memberikan tekanan pada tulang.

Memperbaiki kebiasaan hidup; menghindari rokok, alkohol, dan kopi yang berlebihan karena dapat mengganggu pembentukan tulang.

Pemeriksaan tulang; melakukan pemeriksaan tulang untuk mengetahui osteoporosis secara dini.

Pengobatan osteoporosis :

Terapi hormon pengganti; terapi hormon pengganti pada wanita post menopause. Terapi ini selain dapat mengobati osteoporosis, juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup wanita.

Kalsium dan vitamin D; asupan kalsium dan vitamin D harus memenuhi kebutuhan tubuh.

Bifosfonat; obat golongan bifosfonat selain dapat digunakan untuk pencegahan osteoporosis juga dapat digunakan untuk mengobati osteoporosis karena kerjanya yang spesifik menghambat terjadinya pengeroposan tulang dengan cara menghambat kerja sel penghancur tulang.

(sumber : buklet "Mengenal Osteoporosis", Novell Pharmaceutical Laboratories).